Berdasarkan catatan Espos, bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan kali pertama terjadi di UNS Solo, 17 Maret 1998, kemudian merembet ke Ibukota dan kota-kota lain. Awalnya dipicu kematian Mozes Gatutkaca—aktivis mahasiswa Yogyakarta 8 Mei karena tindakan kekerasan aparat keamanan. Disusul Tragedi Trisakti yang menewaskan enam orang, 12 Mei. Sejak itu, unjuk rasa pun mengalami eskalasi luar biasa.
Kamis 14 Mei, ribuan mahasiswa UMS menggelar demo keprihatinan atas tewasnya Mozes dan Tragedi Trisakti. Kekecauan terjadi setelah ada batu melayang ke arah demonstran, disusul terjadi hujan batu. Ribuan demonstran akhirnya berlari mundur ke Kampus UMS. Sementara, lainnya membalas lontaran gas air mata aparat dengan batu.
Dua mahasiswa anggota tim negosiasi yang tak ikut lari ke kampus, tertinggal. Tak pelak, keduanya jadi bulan-bulanan oleh sejumlah oknum aparat keamanan. Puncak kemarahan massa terjadi saat insiden aparat menginjak-injak seorang demonstran yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan. Massa berteriak mengecam tindakan itu. Itulah awal kerusuhan Mei Kelabu yang menghanguskan sekaligus menghancurkan Kota Bengawan.
Gerakan massa
Massa berjalan ke timur. Sesampai di depan showroom dan diler resmi mobil Timor, tiba-tiba terdengar teriakan, ”hancurkan”. Seketika, massa melempari dengan batu hingga seluruh kaca showroom yang tak terlihat ada mobilnya itu berantakan.
Massa kembali bergerak. Kali ini, showroom Bimantara di timur diler Timor jadi sasaran. Pelemparan batu meningkat setelah massa lepas dari Perempatan Gendengan. Restoran Akuarius, Kentucky Fried Chicken adalah sasaran pertama pelemparan. Sembari bergerak, massa terus melempari hampir semua pertokoan maupun gedung perkantoran di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Namun, sejauh itu, belum ada pembakaran.
Insiden pembakaran meletus kali pertama saat pergerakan massa sampai di Kantor BCA, Gladak. Sebuah mobil yang diparkir di halaman, dibakar massa. Setelah itu, giliran mobil di Bank Danamon, dan di Bank Indonesia. Massa sempat menyerbu Kantor PT Telkom dan Balaikota, tapi urung menyusul kedatangan sepasukan Kostrad. Ketika ribuan orang hendak menyerbu Balaikota, massa mulai terpecah. Sebagian menuju kompleks pertokoan Matahari Beteng.
Sementara, massa di depan Balaikota yang telah menyemut hingga puluhan ribu orang itu menuju Jalan Urip Sumoharjo. Massa menyasar Bank Bumi Artha, Bank Buana, bekas Bank Bali.
Dua mobil di depan Losmen Trio, turut pula diamuk dan dibakar. Berbarengan dengan itu, di sejumlah kawasan Solo lainnya seperti di Nusukan, Gading, Tipes, Jebres, serta hampir seluruh penjuru kota juga meletus aksi serupa.
Kerusuhan kian meluas. Massa di hampir seantero kota turun ke jalan melakukan pelemparan dan pembakaran bangunan maupun mobil dan motor. Bahkan juga penjarahan.
Asap mengepul di mana-mana. Di Jalan Slamet Riyadi yang semula hanya terjadi pelemparan, berganti pembakaran. Di antaranya Wisma Lippo Bank dan Toko Sami Luwes. Supermarket Matahari Super Ekonomi (SE), serta Cabang Pembantu (Capem) Bank BCA di Purwosari, yang semula hanya dilempari, akhirnya dibakar. Di Solo bagian utara, massa membakar Terminal Bus Tirtonadi. Tak kurang dari empat bus ikut dibakar. Di Solo bagian barat, amuk massa juga menerjang Kantor Samsat, Jajar.
Selain itu, Plasa Singosaren berlantai tiga turut pula dihanguskan. Monza Dept Store di sebelahnya, diremuk, juga toko sepatu Bata dan beberapa toko lain. Peristiwa kerusuhan juga terjadi di kawasan Gading dan sekitarnya.
Aksi masih berlanjut
Kerusuhan tak hanya di Solo. Massa di barat Kampus UMS bergerak ke barat dan melakukan kerusuhan di Kartasura. Mereka membakar Kantor Bank BCA, Lippo, Danamon serta ATM BII, di samping pertokoan serta sebuah supermarket di Jalan Raya Kartasura, Sukoharjo, Toserba Mitra. Diler Suzuki, salon, toko kain, toko elektronik serta toko mebel dibakar.
Pada Jumat 15 Mei, aksi perusakan dan pembakaran masih berlanjut. Sekitar pukul 07.00 WIB masyarakat dikejutkan oleh asap hitam tebal yang membubung ke angkasa dari kawasan Gladak. Ternyata, Plasa Beteng telah dibakar massa.
Setelah itu berturut-turut sejumlah tempat yang semula luput dari amukan massa pada hari sebelumnya, akhirnya disasar juga. Toserba Ratu Luwes, Luwes Gading, pabrik plastik di Sumber serta puluhan tempat lain dibakar dan dijarah massa. Begitu juga pembakaran terhadap kendaraan roda dua dan empat masih terjadi di beberapa jalan di Kota Bengawan.
Menurut saksi mata, amuk massa di Solo, 14-15 Mei itu, ada yang memprovokasi. Dua saksi, seorang guru dan seorang alumnus sebuah PTS menyatakan pelaku kerusuhan adalah sekelompok orang dengan dandanan khas. ”Mereka berkelompok 10 sampai 20 orang, menutup muka dengan sapu tangan dan melakukan provokasi sepanjang jalan agar warga ikut merusak.” Kedua orang itu menyatakan kesaksian mereka dalam dialog kerusuhan yang diadakan SMPT UMS, 12 Juni.
Ketika asap kebakaran mulai sirna dan emosi massa mulai menurun, baru diketahui bahwa kerusuhan selama dua hari itu ternyata telah menelan korban jiwa 33 orang. Mayat mereka yang telah dalam keadaan hangus diketahui setelah dilakukan bersih-bersih atas puing-puing amuk massa.
Dari 33 mayat itu, 14 di antaranya ditemukan terpanggang di dalam bangunan Toserba Ratu Luwes Pasar Legi. Sedangkan 19 lainnya terpanggang di Toko Sepatu Bata kawasan Coyudan. Di sisi lain, akibat banyaknya toko, swalayan, dan tempat usaha lain (lebih dari 500 buah) dirusak massa, mengakibatkan sekitar 50.000 hingga 70.000 tenaga kerja (Naker) Solo menganggur.
Menurut catatan Akuntan Publik Drs Rachmad Wahyudi Ak MBA, yang juga Managing Partner KAP Djaka Surarsa & Rekan Solo, kerugian fisik usaha yang ada di plasa dan supermarket mencapai sekitar Rp 189 miliar. Sementara, nilai total kerugian di Solo total Rp 457,5 miliar. - Sumber : Litbang SOLOPOS